Cinta
Tanah Airku
Pagi-pagi sekali
Gio sudah siap-siap untuk berangkat ke sekolahnya. Dan Gio selalu mempersiapkan
cerita yang akan dibagikan ke teman-temannya. Yaitu cerita tentang negeri
kelahirannya, Indonesia. Karena teman-teman Gio selalu ingin mendengarkan
cerita Gio tentang Indonesia dan mereka sangat bersemangat serta terpukau oleh
negeri yang sangat indah itu, negeri yang sangat kaya itu, negeri yang kaya
akan kekayaan alam dan budayanya. Negeri yang sangat luas.
Namaya
Gio Soekarno Adityo, seorang putra dari bapak Adityo putro dan ibu Nia
Chaniago. Umurnya 10 tahun, sekarang Gio duduk dikelas 3 SD. Bapak Adityo
sangat mengidolakan tokoh pahlawan bangsa, Presiden Pertama Indonesia,
pemproklamir kemerdekaan Indonesia, Bapak Ir. Soekarno. Makanya dibelakan nama
Gio diberi nama Soekarno, bapak Adityo berharap agar Gio selalu menjadi
kebanggaan bagi bangsa Indonesia, selalu mengharumkan nama bangsa dimanapun ia
berada.
“Gio,
hmm anak mama sudah bangun” sebuah kecupan dari bu Nia mendarat di kening Gio. “anak
pintar selalu bangun pagi” puji bu Nia. “Iya mama, Gio harus bangun cepat, Gio
harus berangkat cepat kesekolah ma. Soalnya teman-teman Gio udah nungguin Gio
pasti ma”sahut Gio antusias.
“Iya nak? Kenapa teman-teman menunggu
Gio?” sahut mama. “Teman-teman Gio mau tahu tentang Indonesia ma, aku mau certain
Indonesia kemereka ma. Papa tadi malam
udah banyak cerita ke aku kehidupan Papa waktu kecil di Indonesia ma. Pasti
teman-teman Gio udah pada nggak sabar ingin dengerin ma” jawab Gio. “Baiklah,
kalau gitu anak mama yang pintar, Gio sayang sarapan dulu ya” ucap bu Nia
lembut. “Oke mama, Papa mana ma? Belum siap ya? Aah Papa masa kalah ama Gio. Papa
paaa, ayo turun. Gio udah mau sarapan ni papa. Papa ayo sarapan sama Gio”
teriak Gio. Ibu Nia tersenyum melihat kelakuan anaknya yang sangat cerdas.
Itulah
keluarga kecil pak Adityo, sejak tiga tahun lalu, saat Gio masih berumur 7
tahun, mereka pindah ke negeri tetangga Indonesia, yaitu Malaysia. Pak Adityo
dipindah tugaskan ke Malaysia. Walaupun umur Gio saat itu masih 7 tahun, tapi
Gio sangat sedih meninggalkan Indonesia, krena Gio sangat mencinta tanah
airnya. Itulah pengajaran dari pak Adityo kepada anaknya yang selalu menanamkan
jiwa Nasionalisme. Sangat susah bagi pak Adityo dan bu Nia saat itu meyakinkan
Gio, untuk pindah ke Malaysia, karena kecintaannya pada Indonesia.
“Kenapa kita harus pindah ma? Kenapa kita
harus pindah pa? Gio senang di Indonesia, Gio senang di kota Bukittinggi ini. Disini
sangat indah, disini Gio punya banyak teman pa, ma. Disini Gio merasa bahagia,
lagian ngapain kita harus pindah jauh-jauh keluar negeri, sedangkan orang luar
negeri aja pergi kesini” ucap Gio dengan kepolosannya tak ingin pergi
meninggalkan Indonesia. “Papa sama mama nggak cinta lagi ya sama Indonesia?”
tambahnya.
“Bukan begitu Gio sayang. Papa sama mama
sangat cinta Indonesia , sama seperti Gio, Indonesia ini negeri yang indah,
sangat kaya akan tradisi dan budaya, semuanya ada disini. Tapi saat ini papa
diberi amanah sama atasan papa buat pindah kerja ke Malaysia. Gio belum pernahkan
kesana? Kita tidak akan meninggalkan Indonesia sayang, ini hanya untuk
sementara, Gio mengerti? Jawab pak Adityo dengan bijaksana.
“Tapi Gio tidak mau pindah pa, Gio ingin
tetap disini papa” kata Gio sambil merajuk. “Iya Gio, papa mengerti perasaan
kamu nak. Papa tau kamu sayang dan cinta sama Indonesia, Gio punya banyak teman
disini, papa tau pasti berat buat Gio. Tapi walaupun Gio jauh dari Indonesia,
Gio tetap bisa cinta sama Indonesia, selalu, dan itu harus. Gio bisa
memperkenalkan Indonesia keluar sana, percumakan kalau Indonesia yang indah ini
hanya Gio aja yang tahu. Gio, dengan kamu nanti punya banyak teman baru, Gio
tetap bisa menceritakan kepada mereka betapa indahnya Indonesia, dan nanti Gio
bisa membawa dunia untuk melihat Indonesia, Gio mengerti sayang?” jawab pak
Adityo lembut.
Bukan kali ini
pak Adityo dipindah tugaskan, ini adalah yang ketiga kalinya. Pak Adityo lahir
di Surabaya, Jawa Timur. Ia bekerja di sebuah perusahaan kontraktor terbesar di
Indonesia, saat umurnya 25 tahun pak Adityo dipindah tugaskan ke kota Padang. Saat
itulah pak pak Adityo bertemu dengan bu Nia Chaniago, mamanya Gio. Dan saat Gio
berumur 3 tahun, pak Adityo kembali di pindah tugaskan ke kota Bukittinggi.
“Gio sayang papa sama mama punya lagu
buat Gio”ucap bu Nia. “klik..” sebuah nyanyian dihidupkan oleh pak Adityo, lagu
itu mengalun indah dirumah mereka.
Tanah
Air ku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidakan hilang dari kalbu
Tanah ku yang ku cintai
Engkau ku hargai
Walaupun banyak negri kujalani
Yang mashyur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Disanalahku rasa senang
Tanah ku tak kulupakan
Engkau ku banggakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidakan hilang dari kalbu
Tanah ku yang ku cintai
Engkau ku hargai
Walaupun banyak negri kujalani
Yang mashyur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Disanalahku rasa senang
Tanah ku tak kulupakan
Engkau ku banggakan
Saat
Gio diberitahu papanya bahwa mereka akan pindah ke Malaysia, Gio sangat sedih. Tapi
Gio adalah anak yang cerdas ia mengerti apa yang dijelaskan oleh papanya dan
Gio sangat terharu mendengar alunan lagu Tanah Airku. Gio bertekad ingin memperkenalkan
negerinya yang indah, Indonesia ke dunia. Gio berjanji akan itu.
***
“Gio,gio,
gio jomlah, saye dah tak sabar denger cerita kau” teriak Apin pada Gio. “iya
Apin, aku sudah datang pagi-pagi sekali” jawab Gio. “Jom Gio, cerite tentang
Indonesia. Seronoklah cerita dari kau”
lontar safee. “Tadi malam papa cerita banyak sama aku. Bahwa di Indonesia
banyak sekali permainan, ada main gundu, ada main congkak, main karet dan
banyak lagi permainannya” cerita Gio. “Di Indonesia banyak tariannya, ada tari
Piring, tari Payung, tari Pasambahan, tari Rantak Kudo, tari Kipas, itu tarian
yang ada di Sumatera Barat, ada juga tari Saman dari Aceh, Tari Kecak dari
Bali, tari Jaipong dari Jawa, tari Sajojo dari Papua pokoknya banyak lagi ini
aku bawa gambar-gambarnya” tambahnya sambil menunjukkan gambar-gambar tarian,
rumah adat, pakaian adat yang ada di Indonesia pada teman-temannya.
“Iyekah
Gio, ape tu main gundu? Main congkak?
Wah banyak sekali tarian nye, sangat
luas sekali ye Indonesia. Nak kah kau ajari kami permainan nye Gio? Jawab Apin.
“Oh, tentu. Kemarin saat papa pulang ke
Indonesia, papa membelikan congkak, jadi kita bisa main sama-sama akan aku
ajarin kalian cara mainnya. Dan kalau main gundu itu kita bisa main menggunakan
batu saja”. Jawab Gio.
“Oh batu aje? Bisekah tak buat
main?” Kata Mail penasaran. “ Iya tentu, nanti kita main sama-sama setelah
pulang sekolah ya” jawab Gio.
“Cek
gu datang” teriak Romi ketua kelas.
“Jom
lah kita duduk, nanti cerita lagi ye
Gio” sahut Mina.”
“Iya nanti aku ceritakan lagi”.
“Selamat pagi cek gu”. Teriak Romi
“Ah, Selamat pagi murid-murid. Sekarang kite nak belajar behitung. Dah siapkan buku” kata bu guru
“dah
cek gu”
sahut mereka bersama-sama.
***
Gio
sangat senang, ia sangat bangga jadi anak Indonesia. Walaupun ia jauh tapi ia
tetap cinta Indonesia. Walaupun banyak yang tak tahu tentang keindahan
Indonesia Gio tetap bangga akan Indonesia. Dan Gio tetap teguh pada tekadnya
akan memperkenalkan Indonesia pada dunia.
Karya
Miza Oksanti (2014)

