Selasa, 20 Mei 2014

Cerpen


Cinta Tanah Airku
                Pagi-pagi sekali Gio sudah siap-siap untuk berangkat ke sekolahnya. Dan Gio selalu mempersiapkan cerita yang akan dibagikan ke teman-temannya. Yaitu cerita tentang negeri kelahirannya, Indonesia. Karena teman-teman Gio selalu ingin mendengarkan cerita Gio tentang Indonesia dan mereka sangat bersemangat serta terpukau oleh negeri yang sangat indah itu, negeri yang sangat kaya itu, negeri yang kaya akan kekayaan alam dan budayanya. Negeri yang sangat luas.
            Namaya Gio Soekarno Adityo, seorang putra dari bapak Adityo putro dan ibu Nia Chaniago. Umurnya 10 tahun, sekarang Gio duduk dikelas 3 SD. Bapak Adityo sangat mengidolakan tokoh pahlawan bangsa, Presiden Pertama Indonesia, pemproklamir kemerdekaan Indonesia, Bapak Ir. Soekarno. Makanya dibelakan nama Gio diberi nama Soekarno, bapak Adityo berharap agar Gio selalu menjadi kebanggaan bagi bangsa Indonesia, selalu mengharumkan nama bangsa dimanapun ia berada.
            “Gio, hmm anak mama sudah bangun” sebuah kecupan dari bu Nia mendarat di kening Gio. “anak pintar selalu bangun pagi” puji bu Nia. “Iya mama, Gio harus bangun cepat, Gio harus berangkat cepat kesekolah ma. Soalnya teman-teman Gio udah nungguin Gio pasti ma”sahut Gio antusias.
“Iya nak? Kenapa teman-teman menunggu Gio?” sahut mama. “Teman-teman Gio mau tahu tentang Indonesia ma, aku mau certain Indonesia  kemereka ma. Papa tadi malam udah banyak cerita ke aku kehidupan Papa waktu kecil di Indonesia ma. Pasti teman-teman Gio udah pada nggak sabar ingin dengerin ma” jawab Gio. “Baiklah, kalau gitu anak mama yang pintar, Gio sayang sarapan dulu ya” ucap bu Nia lembut. “Oke mama, Papa mana ma? Belum siap ya? Aah Papa masa kalah ama Gio. Papa paaa, ayo turun. Gio udah mau sarapan ni papa. Papa ayo sarapan sama Gio” teriak Gio. Ibu Nia tersenyum melihat kelakuan anaknya yang sangat cerdas.
            Itulah keluarga kecil pak Adityo, sejak tiga tahun lalu, saat Gio masih berumur 7 tahun, mereka pindah ke negeri tetangga Indonesia, yaitu Malaysia. Pak Adityo dipindah tugaskan ke Malaysia. Walaupun umur Gio saat itu masih 7 tahun, tapi Gio sangat sedih meninggalkan Indonesia, krena Gio sangat mencinta tanah airnya. Itulah pengajaran dari pak Adityo kepada anaknya yang selalu menanamkan jiwa Nasionalisme. Sangat susah bagi pak Adityo dan bu Nia saat itu meyakinkan Gio, untuk pindah ke Malaysia, karena kecintaannya pada Indonesia.
“Kenapa kita harus pindah ma? Kenapa kita harus pindah pa? Gio senang di Indonesia, Gio senang di kota Bukittinggi ini. Disini sangat indah, disini Gio punya banyak teman pa, ma. Disini Gio merasa bahagia, lagian ngapain kita harus pindah jauh-jauh keluar negeri, sedangkan orang luar negeri aja pergi kesini” ucap Gio dengan kepolosannya tak ingin pergi meninggalkan Indonesia. “Papa sama mama nggak cinta lagi ya sama Indonesia?” tambahnya.
“Bukan begitu Gio sayang. Papa sama mama sangat cinta Indonesia , sama seperti Gio, Indonesia ini negeri yang indah, sangat kaya akan tradisi dan budaya, semuanya ada disini. Tapi saat ini papa diberi amanah sama atasan papa buat pindah kerja ke Malaysia. Gio belum pernahkan kesana? Kita tidak akan meninggalkan Indonesia sayang, ini hanya untuk sementara, Gio mengerti? Jawab pak Adityo dengan bijaksana.
“Tapi Gio tidak mau pindah pa, Gio ingin tetap disini papa” kata Gio sambil merajuk. “Iya Gio, papa mengerti perasaan kamu nak. Papa tau kamu sayang dan cinta sama Indonesia, Gio punya banyak teman disini, papa tau pasti berat buat Gio. Tapi walaupun Gio jauh dari Indonesia, Gio tetap bisa cinta sama Indonesia, selalu, dan itu harus. Gio bisa memperkenalkan Indonesia keluar sana, percumakan kalau Indonesia yang indah ini hanya Gio aja yang tahu. Gio, dengan kamu nanti punya banyak teman baru, Gio tetap bisa menceritakan kepada mereka betapa indahnya Indonesia, dan nanti Gio bisa membawa dunia untuk melihat Indonesia, Gio mengerti sayang?” jawab pak Adityo lembut.
Bukan kali ini pak Adityo dipindah tugaskan, ini adalah yang ketiga kalinya. Pak Adityo lahir di Surabaya, Jawa Timur. Ia bekerja di sebuah perusahaan kontraktor terbesar di Indonesia, saat umurnya 25 tahun pak Adityo dipindah tugaskan ke kota Padang. Saat itulah pak pak Adityo bertemu dengan bu Nia Chaniago, mamanya Gio. Dan saat Gio berumur 3 tahun, pak Adityo kembali di pindah tugaskan ke kota Bukittinggi.
           
“Gio sayang papa sama mama punya lagu buat Gio”ucap bu Nia. “klik..” sebuah nyanyian dihidupkan oleh pak Adityo, lagu itu mengalun indah dirumah mereka.

Tanah Air ku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidakan hilang dari kalbu

Tanah ku yang ku cintai
Engkau ku hargai

Walaupun banyak negri kujalani
Yang mashyur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Disanalahku rasa senang

Tanah ku tak kulupakan
Engkau ku banggakan

            Saat Gio diberitahu papanya bahwa mereka akan pindah ke Malaysia, Gio sangat sedih. Tapi Gio adalah anak yang cerdas ia mengerti apa yang dijelaskan oleh papanya dan Gio sangat terharu mendengar alunan lagu Tanah Airku. Gio bertekad ingin memperkenalkan negerinya yang indah, Indonesia ke dunia. Gio berjanji akan itu.
***

            “Gio,gio, gio jomlah, saye dah tak sabar denger cerita kau” teriak Apin pada Gio. “iya Apin, aku sudah datang pagi-pagi sekali” jawab Gio. “Jom Gio, cerite tentang Indonesia. Seronoklah cerita dari kau” lontar safee. “Tadi malam papa cerita banyak sama aku. Bahwa di Indonesia banyak sekali permainan, ada main gundu, ada main congkak, main karet dan banyak lagi permainannya” cerita Gio. “Di Indonesia banyak tariannya, ada tari Piring, tari Payung, tari Pasambahan, tari Rantak Kudo, tari Kipas, itu tarian yang ada di Sumatera Barat, ada juga tari Saman dari Aceh, Tari Kecak dari Bali, tari Jaipong dari Jawa, tari Sajojo dari Papua pokoknya banyak lagi ini aku bawa gambar-gambarnya” tambahnya sambil menunjukkan gambar-gambar tarian, rumah adat, pakaian adat yang ada di Indonesia pada teman-temannya.
Iyekah Gio, ape tu main gundu? Main congkak? Wah banyak sekali tarian nye, sangat luas sekali ye Indonesia. Nak kah kau ajari kami permainan nye Gio? Jawab Apin.
“Oh, tentu. Kemarin saat papa pulang ke Indonesia, papa membelikan congkak, jadi kita bisa main sama-sama akan aku ajarin kalian cara mainnya. Dan kalau main gundu itu kita bisa main menggunakan batu saja”. Jawab Gio.
“Oh batu aje? Bisekah tak buat main?” Kata Mail penasaran. “ Iya tentu, nanti kita main sama-sama setelah pulang sekolah ya” jawab Gio.
Cek gu datang” teriak Romi ketua kelas.
Jom lah kita duduk, nanti cerita lagi ye Gio” sahut Mina.”
“Iya nanti aku ceritakan lagi”.
“Selamat pagi cek gu”. Teriak Romi
“Ah, Selamat pagi murid-murid. Sekarang kite nak belajar behitung. Dah siapkan buku” kata bu guru
“dah cek gu” sahut mereka bersama-sama.
***
            Gio sangat senang, ia sangat bangga jadi anak Indonesia. Walaupun ia jauh tapi ia tetap cinta Indonesia. Walaupun banyak yang tak tahu tentang keindahan Indonesia Gio tetap bangga akan Indonesia. Dan Gio tetap teguh pada tekadnya akan memperkenalkan Indonesia pada dunia.

                                                                                                Karya Miza Oksanti (2014)




Berbalas Pantun

Negeri ini penuh nuansa
Disana sini banyak rumah
Hati ini semakin gelisah
Teringat dosa yang semakin bertambah

(Desi Isra Maya Sari Hasibuan)

Air dilaut tumpah ruah
Mata memandang tak pernah penat
Janganlah engkau gundah
Mohon Ampun, tak ada kata terlambat

(Miza Oksanti. 2014)

Pantun

Jalan-jalan ke Kota Yogya
Jangan lupa ke Malioboro
Duhai Sayang dengarlah Bunda
Kasih sayang tak bisa dikilo

(Miza Oksanti. 2014)


Syair


Elsa
                                                                                                    Karya Miza Oksanti (2014)

Elsa anak yang pintar
Setiap hari rajin belajar
Perbuatannya selalu benar
Menjaga adiknya dengan sabar

Gemar sekali dia belajar
Agar nanti jadi orang besar
Setiap orang pasti bergetar
Melihat Elsa gigih dan tegar

Tak pernah Elsa tepar
Karena ia selalu liar
Dengan ilmu ia lapar
Belajar itu Elsa gemar

Puisi


Pelangi
                                                                                                Karya: Miza Oksanti (2014)

Pelangi, begitu indah rupamu
Untuk apa kau diciptakan? Itu yang terlintas di pikiranku
Tapi, saatku melihat keindahanmu
Resah gelisah itu hilang..
Indah kau di ciptakan itu sebab Kebesaran-Nya.

Kalau kau datang setelah hujan di siang hari
Hujanlah yang kuminta
Agar dapatku melihat keindahanmu
Yang Maha Kuasa memberi keindahan padamu
Lamapun akan kunanti,
Asal diberi kesempatan itu, melihatmu Pelangi..

Puisi


IBU KU

                                                                                                Karya: Miza Oksanti (2014)

Meski nafas ini tak berhembus lagi,
Aku rela untukmu
Rela aku pertaruhkan diri ini
Nanti akan kutunjukkan pada dunia
Engkaulah pelita hatiku
Nampak bersinar walau dalam kegelapan
Gelisah hati ini tanpa dirimu dan doamu
Sampai ke ujung dunia pun, keberhasilanku itu karna dirimu
Ibuku, doakan selalu anakmu ini, demi kesuksesanku
Hanya engkau tujuan hidupku, kebahagiaanmu Ibuku.....


Mengubah Puisi kedalam bentuk Prosa


Mengubah puisi “Karangan Bunga” kedalam bentuk prosa.

Karangan Bunga
                Tiga anak kecil
                Dalam langkah malu-malu
                Datang ke Salemba
                Sore itu
                ‘ini dari kami bertiga
                Pita hitam pada karangan bunga
                Bagi kakak yang di tembak mati
                Siang tadi !

                                                                                                Karya Taufik Ismail, 1996














            “ Kita tidak bisa seperti ini selamanya. Kebenaran dan keadilan harus kita tegakkan. Demokrasi harus kita tegakkan di negeri ini. Bangsa ini tidak bisa di jajah lagi karena kebengisan demi kekuasaan. Tidak boleh lagi ada keotoriteran di Tanah Air kita! “.

            Itulah penggalan kata-kata seorang pemuda yang gagah berani. Dia menimba ilmu di Universitas Indonesia, kata-kata itu diucapkan pada rekan-rekan seperjuangannya di markan mahasiswa Universitas Indonesia yang tergabung dalam organisasi KAMI yang terletak di Salemba. Siang itu mereka mengadakan rapat untuk menegakkan kebenaran, untuk menegakkan demokrasi di Indonesia, untuk mengambil hak dan kewajiban yang telah dirampas oleh penguasa yang rakus, hak yang seharusnya didapatkan. Namanya Arief Rahman Hkaim, pemuda gagah berani yang cerdas dan jujur. Siang itu, hakim panggilannya. Bersama teman-temannya sedang berda di markas UI di Salemba. Selain kuliah, hakim juga aktif dalam organisasi KAMI. Untuk memperjuangkan keadilan. Tapi langkah hakim untuk itu tidak mulus dan tidak sesuai dengan yang diharapkan, karena banyak yang menentang apalagi penguasa dan bawahannya yang ada di setiap susut negeri ini. Orang-orang yang mendukung penguasa, yang membantu penguasa untuk melenyapkan orang-orang yang menentang. Betapa kejamnya penguasa saat itu, yang bersuara dan berpendapat, esok pagi pasti tidak terlihat lagi batang hidungnya.
            “Teman-teman, kita harus memperjuangkan nasib kita. Kalau bukan kita yang memperjuangkan nasib kita, siapa lagi yang akan memperjuangkannya?” kata hakim lagi, yang semakin membara keberaniannya.
“Benar kim, tapi apa yang harus kita lakukan hakim?” jawab rekan seperjuangannya. “Benar itu, jalan apa yang harus kita tempuh untuk meruntuhkan dinding penguasa yang sangat kokoh?” timpal rekan lainnya.
“Iya aku mengerti. Penguasa itu sangat kuat, punya orang dimana-mana. Memang sangat sulit untuk melawan. Maka dari itu kita tidak bisa menggunakan kekerasan pula. Kita ini seorang mahasiswa, orang yang cerdas. Penerus bangsa ini, generasi muda yang di harapkan bangsa ini. Jangan kita nodai, dengan keputusan yang gegabah. Kita harus menggunakan cara yang berpendidikan. Untuk memberitahu penguasa itu bahwa kita tidak setuju dengan sikap mereka, kita akan demo untuk meyakinkan mereka, bahwa kita benar-benar sudah tidak tahan dengan pemerintahan ini!” tutur hakim meyakinkan teman-temannya.
“Benar saya setuju dengan kamu kim” dukung seorang teman. “iya, saya juga” timpal yang lain. “betul sekali, bagaimana jika siang ini kita langsung berdemo? Karena semakin cepat semakin baik bukan?” pendapat seorang teman.
“Baik, saya setuju. Semakin cepat semakin baik. Siang ini setelah shalat dzuhur, kita akan melaksanakannya. Ada baiknya kita melaksanakan kewajiban dahulu, kita berdoa supaya Allah selalu melindungi kita, dan kita akan melaksanakan demo ini di mulai dari markas kita ini, bagaiman? Apa kalian setuju?” tanya Arief Rahman Hakim.
“Iya kim, saya setuju” jawab seorang teman. “iya, saya juga” balas yang lain. “Baiklah, ayo kita shalat dzuhur dahulu, setelah itu kita siap-siap untuk melaksanakan misi mulia kita, untuk menegakkan keadilan” orasi Arief Rahman Hakim.
            Siang itu, setelah melaksanakan kewajiban mereka. Para pemuda pejuang bangsa pemberani itu, siap melaksanakan misi mulia mereka, yang akan berdemo pada penguasa karena tidak setuju dengan pemerintahan mereka yang berlaku seperti penjajah dahulu. Tetapi para penguasa, memang benar-benar kejam. Siang itu,,, terjadilah!
            “Dor, dor, door,......”
            “Hyaaa, awas,...”
            “Aaaa, jangan..”
            “Tolong,”
            “Jangan pernah berani melawan!” teriaknya “Dor, dor, door... Dum, brum, dum, dum, blam, bruk, dor, dor, door”.
“aaa.. Allahuakbar, aaa Lailla ha ilallah, aa..” rintih hakim
“Hakim!” teriak rekan-rekannya. “Hakim, jangan pergi” rintih yang lain. “Berjuanglah hakim, kamu pasti kuat. Berjuanglah hakim, kamu sangat hebat, kamu pemberani. Ayo kita sama-sama menegakkan keadilan. Bertahanlah hakim” pinta seorang teman sambil menagis.
Siang itu, tubuhnya tergeletak lemah. Dikelilingi oleh orang-orang, oleh teman, oleh sahabat dan rekan seperjuangan. Arief Rahman Hakim, pemuda yang gagah berani. Pejuang yang berjuang demi keadilan di negeri ini, tertembak mati!. Ditembak, karena di anggap menentang. Padahal dia adalah pejuang yang jujur dan berani, dan tidak rakus demi kekuasaan dan tahta yang bahkan tidak bisa di bawa mati.
            Sore harinya, datang tiga anak kecil, tiga orang adik. Datang dengan rasa duka dan kepedihan yang sangat mendalam. Membawa pita hitam pada karangan bunga, yang melambangkan betapa pedihnya penderitaan yang dirasakan, betapa berharga dan betap di hormatinya sang kakak yang pemberani itu, betapa di sayanginya kakak yang tertembak itu.
“Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, semoga arwahmu di terima di sisi-Nya” doa seorang adik.
“Kak hakim, kakak sangat pemberani. Kakak sangat hebat. Kakak berani berjuang. Kakak berani melawan. Kakak, semoga kakak tenang disana” ucap seorang adik.
“Kakak yang kuat karena keberanianmu, karena perjuanganmu, perlawananmu yang melawan sesuatu yang salah, kehebatanmu menegakkan keadilan, kenekatanmu melakukan perjuangan demi meluruskan kembali sesuatu yang seharusnya lurus, mengambil kembali hak yang telah dirampas, karena kekejaman akibat kerakusan dan kekuasaan” lanjut seorang adik.
“Kakak betapa terluka dan terpukulnya kami atas kepergianmu yang tragis ini. Betapa sedihnya hati ini, betapa mendalamnya duka yang kami rasakan. Engkau orang baik kak, orang yang berani, kakak yang gagah dan jujur, semoga engkau diberi tempat terbaik di sisi Allah SWT” untaian doa seorang adik.
“Amin, yakinlah kak, perjuanganmu, tidak hanya berhenti sampai disini. Kami akan melanjutkan perjuanganmu, kamilah adik yang mengagumi keberanianmu. Kami bertiga kehilangan dirimu” ucap seorang adik. “Benar kak kami akan menegakkan keadilan, melanjutkan perjuanganmu demi bangsa ini. Karena mati satu tumbuh seribu” tegas seorang adik.