Selasa, 20 Mei 2014

Mengubah Puisi kedalam bentuk Prosa


Mengubah puisi “Karangan Bunga” kedalam bentuk prosa.

Karangan Bunga
                Tiga anak kecil
                Dalam langkah malu-malu
                Datang ke Salemba
                Sore itu
                ‘ini dari kami bertiga
                Pita hitam pada karangan bunga
                Bagi kakak yang di tembak mati
                Siang tadi !

                                                                                                Karya Taufik Ismail, 1996














            “ Kita tidak bisa seperti ini selamanya. Kebenaran dan keadilan harus kita tegakkan. Demokrasi harus kita tegakkan di negeri ini. Bangsa ini tidak bisa di jajah lagi karena kebengisan demi kekuasaan. Tidak boleh lagi ada keotoriteran di Tanah Air kita! “.

            Itulah penggalan kata-kata seorang pemuda yang gagah berani. Dia menimba ilmu di Universitas Indonesia, kata-kata itu diucapkan pada rekan-rekan seperjuangannya di markan mahasiswa Universitas Indonesia yang tergabung dalam organisasi KAMI yang terletak di Salemba. Siang itu mereka mengadakan rapat untuk menegakkan kebenaran, untuk menegakkan demokrasi di Indonesia, untuk mengambil hak dan kewajiban yang telah dirampas oleh penguasa yang rakus, hak yang seharusnya didapatkan. Namanya Arief Rahman Hkaim, pemuda gagah berani yang cerdas dan jujur. Siang itu, hakim panggilannya. Bersama teman-temannya sedang berda di markas UI di Salemba. Selain kuliah, hakim juga aktif dalam organisasi KAMI. Untuk memperjuangkan keadilan. Tapi langkah hakim untuk itu tidak mulus dan tidak sesuai dengan yang diharapkan, karena banyak yang menentang apalagi penguasa dan bawahannya yang ada di setiap susut negeri ini. Orang-orang yang mendukung penguasa, yang membantu penguasa untuk melenyapkan orang-orang yang menentang. Betapa kejamnya penguasa saat itu, yang bersuara dan berpendapat, esok pagi pasti tidak terlihat lagi batang hidungnya.
            “Teman-teman, kita harus memperjuangkan nasib kita. Kalau bukan kita yang memperjuangkan nasib kita, siapa lagi yang akan memperjuangkannya?” kata hakim lagi, yang semakin membara keberaniannya.
“Benar kim, tapi apa yang harus kita lakukan hakim?” jawab rekan seperjuangannya. “Benar itu, jalan apa yang harus kita tempuh untuk meruntuhkan dinding penguasa yang sangat kokoh?” timpal rekan lainnya.
“Iya aku mengerti. Penguasa itu sangat kuat, punya orang dimana-mana. Memang sangat sulit untuk melawan. Maka dari itu kita tidak bisa menggunakan kekerasan pula. Kita ini seorang mahasiswa, orang yang cerdas. Penerus bangsa ini, generasi muda yang di harapkan bangsa ini. Jangan kita nodai, dengan keputusan yang gegabah. Kita harus menggunakan cara yang berpendidikan. Untuk memberitahu penguasa itu bahwa kita tidak setuju dengan sikap mereka, kita akan demo untuk meyakinkan mereka, bahwa kita benar-benar sudah tidak tahan dengan pemerintahan ini!” tutur hakim meyakinkan teman-temannya.
“Benar saya setuju dengan kamu kim” dukung seorang teman. “iya, saya juga” timpal yang lain. “betul sekali, bagaimana jika siang ini kita langsung berdemo? Karena semakin cepat semakin baik bukan?” pendapat seorang teman.
“Baik, saya setuju. Semakin cepat semakin baik. Siang ini setelah shalat dzuhur, kita akan melaksanakannya. Ada baiknya kita melaksanakan kewajiban dahulu, kita berdoa supaya Allah selalu melindungi kita, dan kita akan melaksanakan demo ini di mulai dari markas kita ini, bagaiman? Apa kalian setuju?” tanya Arief Rahman Hakim.
“Iya kim, saya setuju” jawab seorang teman. “iya, saya juga” balas yang lain. “Baiklah, ayo kita shalat dzuhur dahulu, setelah itu kita siap-siap untuk melaksanakan misi mulia kita, untuk menegakkan keadilan” orasi Arief Rahman Hakim.
            Siang itu, setelah melaksanakan kewajiban mereka. Para pemuda pejuang bangsa pemberani itu, siap melaksanakan misi mulia mereka, yang akan berdemo pada penguasa karena tidak setuju dengan pemerintahan mereka yang berlaku seperti penjajah dahulu. Tetapi para penguasa, memang benar-benar kejam. Siang itu,,, terjadilah!
            “Dor, dor, door,......”
            “Hyaaa, awas,...”
            “Aaaa, jangan..”
            “Tolong,”
            “Jangan pernah berani melawan!” teriaknya “Dor, dor, door... Dum, brum, dum, dum, blam, bruk, dor, dor, door”.
“aaa.. Allahuakbar, aaa Lailla ha ilallah, aa..” rintih hakim
“Hakim!” teriak rekan-rekannya. “Hakim, jangan pergi” rintih yang lain. “Berjuanglah hakim, kamu pasti kuat. Berjuanglah hakim, kamu sangat hebat, kamu pemberani. Ayo kita sama-sama menegakkan keadilan. Bertahanlah hakim” pinta seorang teman sambil menagis.
Siang itu, tubuhnya tergeletak lemah. Dikelilingi oleh orang-orang, oleh teman, oleh sahabat dan rekan seperjuangan. Arief Rahman Hakim, pemuda yang gagah berani. Pejuang yang berjuang demi keadilan di negeri ini, tertembak mati!. Ditembak, karena di anggap menentang. Padahal dia adalah pejuang yang jujur dan berani, dan tidak rakus demi kekuasaan dan tahta yang bahkan tidak bisa di bawa mati.
            Sore harinya, datang tiga anak kecil, tiga orang adik. Datang dengan rasa duka dan kepedihan yang sangat mendalam. Membawa pita hitam pada karangan bunga, yang melambangkan betapa pedihnya penderitaan yang dirasakan, betapa berharga dan betap di hormatinya sang kakak yang pemberani itu, betapa di sayanginya kakak yang tertembak itu.
“Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, semoga arwahmu di terima di sisi-Nya” doa seorang adik.
“Kak hakim, kakak sangat pemberani. Kakak sangat hebat. Kakak berani berjuang. Kakak berani melawan. Kakak, semoga kakak tenang disana” ucap seorang adik.
“Kakak yang kuat karena keberanianmu, karena perjuanganmu, perlawananmu yang melawan sesuatu yang salah, kehebatanmu menegakkan keadilan, kenekatanmu melakukan perjuangan demi meluruskan kembali sesuatu yang seharusnya lurus, mengambil kembali hak yang telah dirampas, karena kekejaman akibat kerakusan dan kekuasaan” lanjut seorang adik.
“Kakak betapa terluka dan terpukulnya kami atas kepergianmu yang tragis ini. Betapa sedihnya hati ini, betapa mendalamnya duka yang kami rasakan. Engkau orang baik kak, orang yang berani, kakak yang gagah dan jujur, semoga engkau diberi tempat terbaik di sisi Allah SWT” untaian doa seorang adik.
“Amin, yakinlah kak, perjuanganmu, tidak hanya berhenti sampai disini. Kami akan melanjutkan perjuanganmu, kamilah adik yang mengagumi keberanianmu. Kami bertiga kehilangan dirimu” ucap seorang adik. “Benar kak kami akan menegakkan keadilan, melanjutkan perjuanganmu demi bangsa ini. Karena mati satu tumbuh seribu” tegas seorang adik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar