Mengubah puisi “Karangan Bunga” kedalam bentuk
prosa.
Karangan
Bunga
Tiga
anak kecil
Dalam
langkah malu-malu
Datang
ke Salemba
Sore
itu
‘ini
dari kami bertiga
Pita
hitam pada karangan bunga
Bagi
kakak yang di tembak mati
Siang
tadi !
Karya
Taufik Ismail, 1996
“ Kita tidak bisa seperti ini
selamanya. Kebenaran dan keadilan harus kita tegakkan. Demokrasi harus kita
tegakkan di negeri ini. Bangsa ini tidak bisa di jajah lagi karena kebengisan
demi kekuasaan. Tidak boleh lagi ada keotoriteran di Tanah Air kita! “.
Itulah penggalan kata-kata seorang
pemuda yang gagah berani. Dia menimba ilmu di Universitas Indonesia, kata-kata
itu diucapkan pada rekan-rekan seperjuangannya di markan mahasiswa Universitas
Indonesia yang tergabung dalam organisasi KAMI yang terletak di Salemba. Siang
itu mereka mengadakan rapat untuk menegakkan kebenaran, untuk menegakkan
demokrasi di Indonesia, untuk mengambil hak dan kewajiban yang telah dirampas
oleh penguasa yang rakus, hak yang seharusnya didapatkan. Namanya Arief Rahman
Hkaim, pemuda gagah berani yang cerdas dan jujur. Siang itu, hakim
panggilannya. Bersama teman-temannya sedang berda di markas UI di Salemba.
Selain kuliah, hakim juga aktif dalam organisasi KAMI. Untuk memperjuangkan
keadilan. Tapi langkah hakim untuk itu tidak mulus dan tidak sesuai dengan yang
diharapkan, karena banyak yang menentang apalagi penguasa dan bawahannya yang
ada di setiap susut negeri ini. Orang-orang yang mendukung penguasa, yang
membantu penguasa untuk melenyapkan orang-orang yang menentang. Betapa kejamnya
penguasa saat itu, yang bersuara dan berpendapat, esok pagi pasti tidak
terlihat lagi batang hidungnya.
“Teman-teman, kita harus
memperjuangkan nasib kita. Kalau bukan kita yang memperjuangkan nasib kita,
siapa lagi yang akan memperjuangkannya?” kata hakim lagi, yang semakin membara
keberaniannya.
“Benar kim,
tapi apa yang harus kita lakukan hakim?” jawab rekan seperjuangannya. “Benar
itu, jalan apa yang harus kita tempuh untuk meruntuhkan dinding penguasa yang
sangat kokoh?” timpal rekan lainnya.
“Iya aku
mengerti. Penguasa itu sangat kuat, punya orang dimana-mana. Memang sangat
sulit untuk melawan. Maka dari itu kita tidak bisa menggunakan kekerasan pula.
Kita ini seorang mahasiswa, orang yang cerdas. Penerus bangsa ini, generasi
muda yang di harapkan bangsa ini. Jangan kita nodai, dengan keputusan yang
gegabah. Kita harus menggunakan cara yang berpendidikan. Untuk memberitahu
penguasa itu bahwa kita tidak setuju dengan sikap mereka, kita akan demo untuk
meyakinkan mereka, bahwa kita benar-benar sudah tidak tahan dengan pemerintahan
ini!” tutur hakim meyakinkan teman-temannya.
“Benar saya
setuju dengan kamu kim” dukung seorang teman. “iya, saya juga” timpal yang
lain. “betul sekali, bagaimana jika siang ini kita langsung berdemo? Karena
semakin cepat semakin baik bukan?” pendapat seorang teman.
“Baik, saya
setuju. Semakin cepat semakin baik. Siang ini setelah shalat dzuhur, kita akan
melaksanakannya. Ada baiknya kita melaksanakan kewajiban dahulu, kita berdoa
supaya Allah selalu melindungi kita, dan kita akan melaksanakan demo ini di
mulai dari markas kita ini, bagaiman? Apa kalian setuju?” tanya Arief Rahman
Hakim.
“Iya kim, saya
setuju” jawab seorang teman. “iya, saya juga” balas yang lain. “Baiklah, ayo
kita shalat dzuhur dahulu, setelah itu kita siap-siap untuk melaksanakan misi
mulia kita, untuk menegakkan keadilan” orasi Arief Rahman Hakim.
Siang itu, setelah melaksanakan
kewajiban mereka. Para pemuda pejuang bangsa pemberani itu, siap melaksanakan
misi mulia mereka, yang akan berdemo pada penguasa karena tidak setuju dengan pemerintahan
mereka yang berlaku seperti penjajah dahulu. Tetapi para penguasa, memang
benar-benar kejam. Siang itu,,, terjadilah!
“Dor, dor, door,......”
“Hyaaa, awas,...”
“Aaaa, jangan..”
“Tolong,”
“Jangan pernah berani melawan!”
teriaknya “Dor, dor, door... Dum, brum, dum, dum, blam, bruk, dor, dor, door”.
“aaa..
Allahuakbar, aaa Lailla ha ilallah, aa..” rintih hakim
“Hakim!”
teriak rekan-rekannya. “Hakim, jangan pergi” rintih yang lain. “Berjuanglah
hakim, kamu pasti kuat. Berjuanglah hakim, kamu sangat hebat, kamu pemberani.
Ayo kita sama-sama menegakkan keadilan. Bertahanlah hakim” pinta seorang teman
sambil menagis.
Siang itu,
tubuhnya tergeletak lemah. Dikelilingi oleh orang-orang, oleh teman, oleh
sahabat dan rekan seperjuangan. Arief Rahman Hakim, pemuda yang gagah berani.
Pejuang yang berjuang demi keadilan di negeri ini, tertembak mati!. Ditembak,
karena di anggap menentang. Padahal dia adalah pejuang yang jujur dan berani, dan
tidak rakus demi kekuasaan dan tahta yang bahkan tidak bisa di bawa mati.
Sore harinya, datang tiga anak
kecil, tiga orang adik. Datang dengan rasa duka dan kepedihan yang sangat
mendalam. Membawa pita hitam pada karangan bunga, yang melambangkan betapa
pedihnya penderitaan yang dirasakan, betapa berharga dan betap di hormatinya
sang kakak yang pemberani itu, betapa di sayanginya kakak yang tertembak itu.
“Inna lillahi
wa inna ilaihi roji’un, semoga arwahmu di terima di sisi-Nya” doa seorang adik.
“Kak hakim,
kakak sangat pemberani. Kakak sangat hebat. Kakak berani berjuang. Kakak berani
melawan. Kakak, semoga kakak tenang disana” ucap seorang adik.
“Kakak yang
kuat karena keberanianmu, karena perjuanganmu, perlawananmu yang melawan
sesuatu yang salah, kehebatanmu menegakkan keadilan, kenekatanmu melakukan
perjuangan demi meluruskan kembali sesuatu yang seharusnya lurus, mengambil
kembali hak yang telah dirampas, karena kekejaman akibat kerakusan dan
kekuasaan” lanjut seorang adik.
“Kakak betapa
terluka dan terpukulnya kami atas kepergianmu yang tragis ini. Betapa sedihnya
hati ini, betapa mendalamnya duka yang kami rasakan. Engkau orang baik kak,
orang yang berani, kakak yang gagah dan jujur, semoga engkau diberi tempat
terbaik di sisi Allah SWT” untaian doa seorang adik.
“Amin,
yakinlah kak, perjuanganmu, tidak hanya berhenti sampai disini. Kami akan
melanjutkan perjuanganmu, kamilah adik yang mengagumi keberanianmu. Kami
bertiga kehilangan dirimu” ucap seorang adik. “Benar kak kami akan menegakkan
keadilan, melanjutkan perjuanganmu demi bangsa ini. Karena mati satu tumbuh
seribu” tegas seorang adik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar